Tak apa jika ingin menangis, menangislah. Tak apa jika ingin berteriak, berteriak lah. Tak apa jika ingin marah, marahlah. Tak apa jika lelah, istirahatlah. Tapi jika sudah selesai melampiaskan kesedihanmu, bangkitlah. Bangunlah, karena di depan sana, kebahagiaan sedang menantimu untuk kamu jemput. Hidup memang berat, tak apa. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Tak apa, kamu sudah hebat bisa melalui hingga saat ini. Kamu luar biasa. Tetap kuat ya, kamu bisa. Dariku, untuk kamu yang sedang berjuang menapaki kehidupan ini....
Suatu waktu, saat jemari asyik menari di atas layar ponsel, mata sibuk menjelajahi foto maupun video dari masyarakat dunia maya, pandangan terhenti oleh suatu foto yang memperlihatkan kebahagiaan sebuah keluarga baru dan pasangan baru. Seketika itu, hati mulai sendu, gelisah dan sedih bercampur menjadi satu. Bibir tak berucap namun hati bertanya dalam bisik " Tuhan, kenapa hidupku tak seindah mereka? Tuhan apa aku bisa sebahagia mereka?" Itu manusiawi, kita memiliki hati dan perasaan. Tak apa berprasangka kepada diri sendiri, tapi berprasangkalah baik agar diri kita damai dan terhindar dari rendah diri. Namun, hindari tinggi hati. Kebahagiaan duniawi hanya sementara, kebahagiaan yang abadi ada di akhirat nanti. Sulit memang untuk menghilangkan prasangka diri apalagi cita-cita belum tercapai. Sudah bersusah payah memperbaiki diri tapi nasib baik belum menampakkan diri. Tak apa, setidaknya kita sudah berjuang. Itu sudah hebat, sekarang tinggal kita perbaiki ibadah kepada Illah...
Menjadi wanita yang masih melajang apalagi di usia yang mendekati 30 tahun, rasanya itu nano-nano. Pertanyaan pertanyaan seperti "kapan nikah? Udah punya calon apa belum?" Sudah menjadi camilan sehari-hari. Celetukan-celetukan seperti "Sudah waktunya lho, masak kalah sama adiknya" bagaikan dengungan nyamuk dimalam hari. Ketika melihat teman, saudara, dan kolega satu persatu mengirim undangan pernikahan, memposting foto atau video pernikahannya, hadir di pernikahan mereka, dan sebagainya itu rasanya seperti ada yang mengganjal di hati. Sebenarnya aku ikut bahagia melihat mereka bahagia tapi juga sedih karena aku belum bisa seperti mereka. Aku juga ingin seperti mereka punya pasangan, menikah, punya momongan dan kehidupan rumah tangga lainnya. Aku sempat berpikir kenapa aku tidak seperti mereka yang dengan mudahnya menemukan pasangan dan menikah. Aku sempat berpikir, kenapa Tuhan tidak adil padaku. Pikiran-pikiran negatif ini membuatku frustasi dan bahkan aku sempat ...
Komentar
Posting Komentar